Halo, sobat hace!
Jumpa kembali bersama Trueside News di penghujung hari kerja yang menjemukan dan seperti biasa–melelahkan. Untuk kalian yang mungkin saja merasakan hal yang sama seperti saya, ada beberapa hal yang sekiranya menjadi faktor kejemuan tersebut. Di antaranya (mungkin), beban kerja yang menumpuk, keadaan finansial yang kurang baik, krisis tanggal merah dengan jatuhnya hari raya Iduladha pada hari Minggu, musim kemarau berkepanjangan serta hujan yang tak kunjung datang, dan bagi beberapa orang yang meyakini astrologi: mercury retrograde. Dan lebih lagi, semua faktor tersebut datang secara bersamaan.

Kejemuan atau rasa bosan sesungguhnya bisa menyerang siapa saja, dengan faktor penyebab yang bermacam-macam. Saya sungguh merasakannya dalam dua minggu belakangan. Kejemuan yang cenderung bikin segalanya kacau. Rungsing. Mumet. Bahkan, beberapa waktu sempat tidak sanggup menuliskan apapun. Dalam kesusastraan hal ini dikenal dengan istilah writer’s blockItu semua terjadi begitu saja, seperti tak terhindarkan.

Biasanya, saya menghindari menulis hal-hal yang bersifat personal dalam kolom Trueside News. Tapi, berhubung cukup banyak teman-teman merasakan hal yang sama (hahaha), kali ini akan jadi pengecualian.

Meski tak terhindarkan, bukan berarti kita tidak berdaya dalam menghadapi kejemuan. Setidaknya masing-masing dari kita mengetahui apa yang bisa kita lakukan untuk melawan kejemuan. Bukankah sejarah peradaban manusia adalah deretan panjang usaha-usaha melawan kejemuan? Tak akan ada buku bila manusia tidak jemu terhadap tutur kata. Tak akan ada hardcore punk bila sekelompok pemuda tidak jemu terhadap musik punk akhir tujuh puluhan yang kurang bertenaga, tidak agresif, dan cenderung lambat. Tak akan ada straight edge bila Ian Mackaye tidak jemu terhadap kultur punk yang kian abusif. Kita, pada akhirnya memiliki mekanisme tersendiri untuk memerangi kejemuan.

Saya memerangi kejemuan yang belakangan ini saya rasakan dengan menonton beberapa film yang belum sempat saya tonton, membaca beberapa cerpen di koran-koran dari cafe yang saya sambangi, membaca dokumentasi surat-surat Pramoedya kepada Ariel Heryanto, dan berselancar di internet untuk mendengarkan beberapa musik yang belum saya dengar. Kebetulan, teman-teman di Trueside mengurasi musik-musik lokal dan mengumpulkannya dalam sebuah playlist di layanan streaming Spotify. Selain track-track yang sudah akrab di telinga, ada banyak track yang baru saya dengar dan ternyata luar biasa membantu saya mengakhiri rasa jemu yang belakangan sedang saya rasakan.

Memuat track-track dengan berbagai genre, kota asal, juga latar belakang. Meski belum sepenuhnya merangkum keanekaragaman warna dari musik lokal, playlist ini adalah gambaran dan apresiasi terhadap musisi lokal yang pernah bekerjasama, bersentuhan, bertegur sapa, maupun personal favorite dari Trueside Crew. Tentunya, akan terus diperbarui seiring berjalannya waktu. Dengan membagikannya di kolom ini, saya harap playlist ini dapat membantu pembaca memerangi kejemuan yang melanda. Atau, jika mungkin harimu sedang baik-baik saja, playlist ini dapat menambah warna dalam aktivitasmu.