Spontanitas sering kali menjadi hal pendorong utama atau alasan sebuah band melahirkan karya. Ada pula yang secara bersungguh-sungguh memberikan sentuhan personal seperti ide-ide, referensi musik kesukaan, humor, sampai gaya berpakaian dan aksi panggung. DJxAA merupakan band dengan kedua hal tersebut sebagai dasarnya: spontanitas dan sentuhan personal.

Mengusung musik yang saat ini ‘tidak laku-laku amat’. Dengan personel yang sudah tidak asing lagi dalam kancah skena musik (((bawah tanah))) seperti Juli (Septictank), Unbound (Petaka/Speedkill), Anom (Straight Answer), Abe (Sesepuh Mods Indonesia). DJxAA sering tampil fenomenal dengan pakaian yang nyentrik seperti pakaian dalam wanita, seragam sekolah, hingga pakaian gulat.

Namun di balik semua kenyelenehan dan nama besar personelnya, ada ide-ide dan kisah-kisah krusial yang menjadi sebuah pondasi yang mendasari perjalanan bermusik DJxAA. Simak interview kami bersama Julianto Tambunan dari DJxAA berikut ini

Dengan personel yang tergolong all-star, ribet gak sih ngebandnya?

Gak ribet sih sebenernya, malahan enak waktunya. Paling cuma Anom yang ribet di kerjaan, yang lainnya  mah enak. Drummer gue (Abe) jam 10 pagi udah ‘holiday’ naik vespa tapi ada aja duitnya, Unbound (Danang) tattoo artist. Gue pengangguran, eh udah kerja sih sekarang hahaha. Anom aja sih yang agak susah karena dia sibuk kerja. Jadi, (kita) harus nyesuain jadwal sama Anom.

Kalau senangnya?

Wah, kalau senangnya sih ketawa-ketawa terus sih hahaha.

Lo mendefinisikan musik yang lo mainkan sebagai apa sih?

Fastcore/powerviolence dengan level terburuk, hahaha.

Apa yang bikin lo kepengin ngeband kayak gini?

Kalo gue pribadi emang suka fastcore/thrashcore. Gue (secara) pribadi suka 70’s punk rock kayak 999, Buzzcocks, The Dead Boys, Peter and the Test Tube Babies, The Partisans dan beberapa band streetpunk kayak The Casualties dan The Unseen. Setelah fase itu gue malah langsung dengerin band-band macam Charles Bronson, Betercore, Spazz, Larm , Fuck On The Beach dan ngeskip lagu-lagu hardcore yang lebih universal. Terus, jatuh hatinya waktu Domestik Doktrin ngeluarin album Manufakturing Karma. Wah anjing! keren banget nih! gue suka nih fastcore! Sampai sekarang menurut gue Domestik Doktrin band fastcore paling keren sih, variasi part-part dalam musiknya ditambah dengan lirik yang super yahud. Gue jatuh cinta sama Domestik Doktrin dan pengin ngeband kayak gini, karena Domestik Doktrin. Gue juga pernah bikin fastcore sebelum DJxAA, namanya Bedebahbangsat, band yang gue kerjain waktu di Medan.

Kalo DJxAA, awalnya sih malahan Anom yang ngajakin gue ngeband kayak Spazz. Anom ngajak Unbound juga. Entah Unbound lagi mumet atau gimana, dia ngajak Abe. Gue juga kenal sama drummer gue (Abe) baru banget pas ngeband ini.

Secara teknikal (musik), apa sih susah atau sulitnya ngeband fastcore?

Gimana ya… Lo harus menggunakan waktu satu menit untuk memainkan part-part yang bervariasi. Dengan waktu semenit. Kalo dipanjangin lagi, udah gak enak. Ada beberapa band fastcore yang gak bervariasi soalnya. Kesulitannya di situ sih: dengan waktu yang singkat lo harus bikin musik yang variatif, mulai dari kunci gitar sampai ketukan drum

Subgenre yang lu mainin kan cenderung dikit pemainnya dan gak sebanyak hardcore yang universal. Gimana sih pandangan lo terhadap subgenre ini?

Sekitar tahun 2005 sampai 2010 malah lagi banyak-banyaknya. Ada Taste of Flesh, Domestik Doktrin, Gudang Garam, Anjing Tanah, Hantam Rata, Secret Seven (Singapore), kalo lu masih inget gaya topi ngablak, kemeja flanel, itulah masanya band-band fastcore banyak ditemukan.

Kalau band-band sekarang, coba dengerin Hong!. Dia bukan fastcore tapi durasinya cepat, musiknya juga cepat tapi ada part-part yang speednya di bawah fastcorepasti sih lebih clean ,  gw mulai memperhatikan sekitar tahun 2016 bermunculan band band seperti Hong!, kayak The Kuda, Koteka Is The Reason, yang maennya kaya Circle Jerk, Black Flag, OFF! Dengan sedikit sentuhan gitar-gitarnya Dead Kennedys dengan gitar yang clean, gak kotor tapi main cepat. Tapi, yang mainin dengan distorsi kotor udah jarang sih gue temuin, coba deh kasih tau gue kalo ada, Total Jerks mungkin salah satu yang menembus dimensi kevakuman subgenre ini, sampe sekarang masih aktif gila, tour sana sini, rilis sana sini, Tapi tetap Hong! yang di hati gue saat ini.

 

JULI SAAT KAMI TEMUI DI DEPAN SERIKAT DAGANG SANTA

Di luar hardcore apa yang jadi inspirasi lo?

Inspirasi gue ya orang tua gue. Itu inspirasi gue banget dalam segala hal.

Secara lirikal sih.. gue selalu menempatkan posisi gue sebagai orang yang “muna”, Punk kan budaya perlawanan, kalo gak ada lirik yang pesannya sebagai perlawanan, gue rasa ‘ah enggak lah’. Jadi, gue hadirkan itunya (pesan perlawanan). Gue masih me’muna’kan jalan pikiran gue bahwa hardcore/punk adalah budaya perlawanan. Dan itu menjerumuskan gue dalam menulis lirik. Menurut gue harus ada sesuatu yang ‘ini punk, lho’ dan itu ya budaya perlawanan tadi. Kalo nulis tentang ‘kegelapan’ (hahaha) atau yang lebih majornya tentang percintaan, enggak deh. Meskipun gue yakin punya kompetensi untuk menulis itu, tapi enggak lah. Gue menjaga ke’muna’an itu dalam setiap penulisan lirik gue.

Berarti lo pengin ada political standings dalam lirik-lirik lo?

Gue pengin ada pesan-pesan (perlawanan) sih. At least, ada pesan untuk sesama lo.

Performance lo selalu fenomenal dengan estetika queer. Gimana sih pandangan lo terhadap keberadaan LGBTQ+ dalam skena hardcore/punk?

Gue orang yang mendukung LGBTQ+. Gue gak mandang (mereka) gimana-gimana. Gue belajar sih sekarang untuk jadi orang yang memahami mereka, gue juga menghormati pilihan mereka. Permasalahan gue, dulu sempet ‘takut’ sama waria atau hal-hal semacam itu, udah jadi rahasia umum juga dalam circle pertemanan gua. Gue dulu takut sama orang-orang seperti itu. Entah gue yang salah atau gimana, mungkin gue gak banyak baca pada zaman itu. Insecurities gue melebihi pengetahuan gue.

Gue sekarang meletakkan LGBT (entah laki-laki, perempuan, transgender atau transeksual) sebagai hal yang normal. Gue udah mengikis rasa ‘takut’ gue. Mungkin salah sih gue bilang takut. Tapi, ya dulu emang seperti itu karena pengetahuan gua lebih kecil dibanding insecurities gue. Tapi, itu pikiran gue dulu. Sekarang gue menganggap mereka punya hak yang sama seperti orang-orang yang dianggap “normal”. Misalnya mau ngomongin agama, siapa juga yang memastikan lo bakal masuk surga atau neraka.

Menurut lo di skena hardcore/punk lokal ada gak sih ruang untuk mereka (LGBTQ+)?

Ada. Hardcore/punk tuh kapan aja lo masuk, kapan aja lo keluar, dan kapan aja lo kembali lagi, bakal tetap terbuka. Siapa aja, mau masuk trus keluar lagi, trus mau masuk lagi, bebas. Ini tuh bukan gangster dengan prinsip persaudaraan yang kekal, yang misalnya lo tiba-tiba keluar trus mau balik lagi pasti dicap pengkhianat. Hardcore/punk tuh gak ada keterikatan. Mau kapanpun lo pergi dan kapan dateng lagi, ya udah gak apa-apa, gak ada yang ngapa-ngapain lo. Bahkan, baru mau ngepunk di umur 50 tahun juga skena ini welcome banget. Mau lo ngepunk dari SD atau SMP, ya tetep nerima. Tetep ayo, lets go, let’s do the good things.

Tapi, realitanya justru kehadiran LGBTQ+ di skena hardcore/punk gak begitu keliatan kayak di skena-skena musik lain. Gimana pendapat lo?

Ya mungkin emang mereka gak suka sama musik hardcore/punk. Kalo suka mereka bakal dateng, sesimpel itu sih menurut gue.

Apa yang mau lo sampaikan dengan outfit queer di setiap penampilan lo?

Seperti yang gue ceritain tadi. Untuk melawan ke insecurities gue, sekarang gue menggunakan kostum mereka, ternyata itu efektif buat mengikis insecurities gue. Jadi menantang diri gue dengan menggunakan pakaian kayak perempuan, atau pernah pakai pakaian wrestling yang gue dapet dari situs belanja homoseksual. Itu semua gue lakukan untuk gue sendiri sih, Mungkin kalo orang lain jadi terdorong atau terbesit buat support mereka sih syukur atau at least lu jangan ngebully lah.

JULI DAN RILISAN PERDANA DJxAA

Band hardcore dan non-hardcore lokal yang lo rekomendasikan buat didengar pembaca?

Hardcore: Hong!, Ratpack, Buried, Somebody Fool, Bounce Back, Lowlife, Stomp Brigade, trus Sonic Warhead. Yang jelas, dengerin band-band temen lo sih.

Non-hardcore: Joe Million dan Insthinct

Jika percakapan ini menarik perhatian pembaca pada DJxAA, kami menyarankan untuk mengecek laman bandcamp mereka dan sila hubungi mereka secara personal untuk mendapatkan rilisan fisik perdananya. Jangan lewatkan juga penampilan terdekat mereka pada Kamis (27/6) di Rossi Musik bersama Odd Man Out dan beberapa band hardcore lokal keren lainnya