Sempat menghilang selama beberapa saat, Buried, grup musik powerviolence asal Tangerang Selatan kembali melancarkan agresinya pada skena hardcore/punk tanah air. Kembalinya Buried, menarik perhatian kami untuk memperbincangkan seputar kegiatan dan proses ngeband Buried serta skena powerviolence itu sendiri.

Seperti yang kita ketahui, powerviolence merupakan subgenre hardcore/punk yang peminatnya tidak sebanyak band-band hardcore pada umumnya. Jumlah band yang mengusungnya di Indonesia pun saat ini dapat dihitung dengan jari.

Untuk itu dalam kesempatan ini, selain berbincang mengenai ‘dapur’ Buried, kami berbincang bagaimana pandangan mereka terhadap skena powerviolence Indonesia. Simak perbincangan kita di bawah ini:

 

 Di antara banyak subgenre, kenapa lo pilih powerviolence?

“Awalnya mikir musiknya gampang dan lebih lepas, tapi malah keblinger pas udah jadi band. Malahan cenderung lebih sulit karena harus bikin musik dengan durasi cepat dan enggak gitu gitu doang.”

 

Band powerviolence apa yang bikin lo geregetan mau ngeband?

“karena dengerin Aerosols sama Duke Nukem Forever era sebelum EP Hurt. Langsung kayak, anjing! gue pengen bikin band kayak gini nih! Walaupun akhirnya gak kaya mereka..”

 

Sebelum jadi Buried, namanya kan M.I.L.F. Bisa diceritain sedikit soal proses transisi ini?

“Awalnya ngeband sama ruben dan amir mau bikin band powerviolence komedi tapi ternyata enggak bisa bikin lirik komedi. Bikin lirik komedi kan cenderung pake bahasa Indonesia, ternyata bikin lirik bahasa Indonesia lebih susah. Komedinya sendiri pun susah hahaha.

Awalnya kita bertiga doang gak pake bass. Di akhir album pertama kita, Terra Incognita, gua ajak Luky buat main bass. Setelah EP Liege keluar, Amir keluar dan posisi drum diganti sama Amon. Sebenernya sebelum Amir keluar Amon udah pernah bantu Buried sekali, waktu itu main Pekalongan. Jadi, daripada ribet nyari-nyari lagi, yaudah ajakin Amon buat gantiin Amir. Terus belakangan lebih sering main bertiga tanpa bass karena Ruben mulai sibuk sama usahanya. Pernah juga beberapa kali untuk bass dibantu sama temen.”

 

Selama mengusung powerviolence sebagai subgenre pilihan, apa saja susah-sulitnya?

“Cari-cari musik sih susah karena band powerviolence durasinya cepat, otomatis kalo lo mau bikin full album enggak bisa tujuh sampai delapan lagu aja, harus sepuluh track lebih. Di antara bikin 10 lagu itu, lo harus cari musik yang enggak sama antara satu track dengan yang lainnya. Jadi, harus beda-beda semua.”

 

Ngomongin skena lokal, band powerviolence bisa dihitung jari. Gimana pendapat lo?

“Ya, gimana ya? Stagnan sih menurut gue. Band baru bakal tetap muncul, tapi gue rasa enggak bakal booming dibanding band-band hardcore yang lebih umum. Yang muncul dan akan rilis juga bisa dihitung jari. Yang gue tau saat ini paling Blam (Batam), Black//Hawk (Palembang), Manekin (Palembang) dan Senopit (Tangerang)–ini juga cenderung grindcore sih”

 

Ada enggak band powerviolence lokal yang jadi favorit lo?

“Aduh, apa ya…  Wicked Suffer deh.”

 

Di luar hardcore, apa yang jadi inspirasi lo?
Gue pernah baca kalo track Titik Pucat diinspirasikan dari sebuah buku.

“Bukan buku sih. Itu diambil dari speechnya Carl Sagan yang judulnya Blue Pale Dot. Liriknya membicarakan manusia yang hidup di bumi, yang kalau dilihat dari jarak berjuta tahun cahaya, cuma kaya debu. Mungkin bumi itu debu yang berisik dengan segala konflik di dalamnya. Sumbernya ya manusia yang selalu merasa agung dalam galaksi yang sebesar ini, padahal hidup di bumi yang kecil. Manusia merasa paling benar.

Kalo secara lirikal, kebanyakan inspirasinya kehidupan pribadi supaya lebih real dan lebih lepas aja, tentang gimana menghadapi masalah di dunia, menghadapi depresi. Semua lirik Buried inspirasinya persoalan stres dalam kehidupan, kemarahan, dan gimana nyari jalan keluarnya. Bahkan, ada lagu cinta. Liriknya soal kasih tak sampai gue jaman SMA, judulnya Mörker. Ceritanya gue suka sama cewek, udah sayang, tapi dia nganggep gue cuma temen. Sama Thus Spoke Zarathustra biar nihilis abis hahaha.”

 

Kalo gitu harusnya lo bikin band emo-violence macam Orchid aja enggak sih?

“Pengen banget, udah ada rencana tapi bingung mau ajak siapa. *kode sebuah ajakan*”

 

Band hardcore dan non-hardcore lokal yang lo rekomendasikan buat didengar pembaca?

“Untuk hardcorenya: Gaze Dread, Peel, Veins, Glare, Heaven In, Ratpack, Stomp Brigade, sama Hong!

Untuk non-hardcorenya: Rayssa Dynta, Joe Million, Jeslla, Pure Saturday, Elephant Kind, Scaller sama Vira Talisa.

*honorable mention: Letto.”

 

Dengar-dengar melalui blog Catatan Si Roy kalian udah recording buat rilisan terbaru, bakal jadi EP atau full album?

Itu total rekaman 13 lagu, bakal jadi full album kedua setelah Terra Incognita. Rekamannya udah dari akhir 2017, sampe sekarang belom rilis. Anjeeengg!

 

Kalo lagu lo sendiri yang mau lo rekomendasikan ke pembaca?

Semuanya. Kebetulan kita baru upload empat lagu baru di Bandcamp.

 

By the way, kalian bakal main dalam konsernya Odd Man Out di Jakarta.
Udah pernah dengerin Odd Man Out?

Udah, yang album CCHC. Sangat hardcore. Tapi album barunya belum dengerin hahaha

 

Para pembaca yang kami cintai, jika kalian berada di sekitar Jakarta pada akhir bulan Juni ini. Jangan sampai melewatkan dua penampilan terdekat Buried. Pertama, dalam gelaran konser Odd Man Out (27/6). Kedua, dalam konser Low Fat dan Kandala (28/6). Keduanya bertempat di Rossi Musik, serta pastikan kalian sudah mendengarkan promo album terbaru Buried yang ‘gak powerviolence-powerviolence amat’ di Bandcamp mereka