Para pembaca yang budiman, sesuai apa yang kami janjikan di minggu lalu, Trueside News kembali hadir pada tiap akhir pekan untuk membagikan berbagai referensi yang mudah-mudahan bermanfaat. Hal tersebut bisa saja referensi musik (tentunya), film, venue favorit, tempat berburu records dan merchandise, buku, hingga hal-hal yang mungkin saja terpikirkan oleh para pembaca.

Kali ini, kami mengais referensi musik dari salah satu pegiat musik hardcore/punk yang sudah berkecimpung dalam skena selama lebih dari dua dekade. Bersamaan dengan penayangan video musiknya secara perdana, kami meminta referensi lima album musik pilihan Austino Bantrang Aribowo atau yang akrab disapa dengan mas Nino (Prime, Lost Sight, Burning Inside).

Melalui pengalamannya bermusik selama lebih dari dua dekade, kita disuguhkan cerita-cerita yang mungkin sama sekali tidak pernah kita alami pada era ini seperti kaset rekaman dengan sampul kertas fotokopi, berburu referensi ke rumah teman yang lebih beruntung secara finansial, serta memainkan referensi musik hasil buruan bersama teman-teman di tongkrongan.


Buat yang penasaran album apa aja yang jadi pilihan mas Nino dan cerita dibaliknya, berikut adalah daftarnya:

The Cure – Wish (1992)

Pertama kali tau The Cure tahun 1993 gara-gara nonton segmen acara musik “Sekilas Musik” di RCTI. Music Video yang diputar saat itu adalah Friday I’m in Love. Ini gilak banget sih waktu pertama kali denger. Saat itu gue lagi suka dengerin GNR, Metallica dan Ugly Kid Joe hahaha. Tiba-tiba disuguhin lagu catchy, agak gloomy, tapi seperti dibalut nada-nada riang. Pokoknya gue kayak nemuin hal baru yang harus gue cari tau lebih banyak. Gue nangkepnya The Cure seperti mau bilang bahwa saat kita lagi sedih dan terpuruk dalam gelap, bisa ada titik cahaya yang hadir menghibur. Hasseekk.


Ramones – Brain Drain (1989)

Album Ramones yang pertama kali gue denger ini ternyata adalah album mereka yang ke-11. Gue denger album ini sekitar tahun 1994, waktu baru pertama kali tau Punk Rock. Di mana saat itu selera musik gue lebih ke GNR, Metallica dan 90’s rock. Brain Drain memberikan pengaruh yang besar saat itu buat telinga gue dan akhirnya selera musik gue pun jadi pindah ke lagu-lagu dengan model aransemen 3 chords, simple dan catchy. Most Fave song di album ini adalah Pet Sematary.

Minor Threat – S/T (1981)

Saat pertama denger Minor Threat gue belom tau kalo ada hubungannya sama Fugazi, di mana sama-sama ada Ian MacKaye di kedua band tersebut. Maklum, waktu itu agak susah untuk mengakses informasi dan juga gue cuma pegang kaset rekaman yang covernya cuma dapet fotokopian bagian depannya doang hahaha. Lagu-lagu di rilisan ini bikin pecah banget saat itu dan gue masih kasi judgement bahwa ini adalah band Punk, karena tahun 1995 gue belum kenal istilah Hardcore.

Dashboard Confessional – The Places That You Have Come To Fear The Most (2001)

Sekitar tahun 2001-an, gue diajak sama Isan Malih (saat itu dia masih drummer nya Kuro!) main ke rumah Adam Carlos Keho, anak bocah masih SMA yang sekolah di JIS (Jakarta International School). Di rumah Adam kita sering jamming dan iseng nulis lagu-lagu model Whippersnapper dan Lagwagon. Tiba-tiba Adam ngenalin gue sama musiknya Dashboard Confessional dan gue langsung kepincut, karena mungkin saat itu lagu-lagunya relevan banget sama kondisi gue yang patah hati mulu hahaha. Gue bawa pulang CDnya and gue rekam di kaset. Sejak itu, DC jadi most fave playlist gue tiap hari. Sampai akhirnya gue bawa nongkrong ke Wijaya Kusuma, tempat kumpul Lost Sight dan teman-temannya. Temen-temen di Wijaya Kusuma pun akhirnya ikut ketularan demam DC, di mana yang tadinya kalo nongkrong lebih sering mainin lagu-lagu Morrissey dan The Cure pake gitar kopong, setelah demam DC langsung deh semua patah hati bareng-bareng hahahaha. Good Old Days!!

Angel Du$t – Rock The Fuck On Forever (2016)

Album yang dipersembahkan oleh band HC kekinian ini bener-bener bikin pola pikir gue dalam bermusik dan menikmati musik jadi agak geser alias berubah. Sebenernya materi di album ini tuh bukan hal baru, tapi berasa fresh karena musik dengan nuansa Alternative Rock 90s kok bisa dibalut dengan Hardcore attitude. Lesson yang gue tangkep dari album ini adalah bahwa dalam bermusik dan menikmati musik itu harusnya tidak ada batasan.